by

Stop Pernikahan Usia Anak, Retniwati : Menikahlah Diwaktu yang Tepat

HaloSumbar.com – Sebagai warga negara, hak anak atas bermain, berpendidikan, dan mendapatkan kesehatan merupakan hak mutlak yang tak bisa dilanggar. Melangsungkan pernikahan usia anak telah melanggar pemenuhan atas hak-hak tersebut, untuk itu menikahlah di usia yang tepat.

Hal di atas merupakan benang merah yang disampaikan Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak (Dalduk, KB, PP-PA) Kabupaten Agam, Retniwati terkait kejadian yang baru-baru ini menghebohkan jagat maya.

Sebelumnya, dunia maya digemparkan dengan beredarnya foto dan video pernikahan sepasang ABG berusia 13 dan 14 tahun di Desa Tungkap, Kecamatan Binuang, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan (Kalsel), Jumat (13/7) lalu.

“Sebagai seorang anak, yang masih terjamin hak bermainnya, hak pendidikan, hak kesehatan, kita orang dewasa harus memenuhi dan menyadari itu,” ucap Retniwati ketika ditemui HaloSumbar.com, Senin (16/7).

Pihaknya sangat prihatin dan menyayangkan masih adanya pembiaran kejadian seperti ini. Padahal, banyak pihak sudah cukup gencar mengkampanyekan tentang bahaya yang mengancam pernikahan usia anak.

“Dari sisi kesehatan, pasangan anak di bawah umur bukanlah usia di mana organ reproduksi cukup matang, sehingga ketidakoptimalan organ reproduksi ini akan berkorelasi pada kualitas anak yang dikandungnya, proses persalinan dan lain sebagainya,” terangnya.

Jadi, sambung Retniwati, pada keadaan pasangan ini hamil di usia anak, probabilitas bayi yang lahir bermasalah akan tinggi dan ini akan berhubungan dengan tingginya angka kesakitan dan bahkan angka kematian bayi. Dikatakannya hal itu tentu berkolerasi dengan anggaran biaya kesehatan, pendidikan, dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

“Kemudian lagi, di usia mereka yang masih tergolong anak, hasrat bermainnya masih tinggi, kesadaran memikul tanggung jawab belum ada,” tukasnya.

Pihaknya khawatir, pola asuh pada anak yang terlahir kemudian akan semakin bermasalah. Dikatakannya bahwa masalah pengasuhan dalam keluarga, menjadi akar timbulnya masalah pada anak. Di mana, ini semakin memperburuk upaya perlindungan pada anak secara keseluruhan.

“Untuk itu kami mengimbau pada banyak pihak, untuk memahami bahwa pernikahan usia anak bukanlah pilihan,” ujarnya lagi.

Untuk mencegah terjadinya hal yang serupa di wilayah administratifnya, pihaknya mengklaim telah memiliki program yang baik. Salah satunya program generasi berencana, yang di dalamnya mengkampanyekan stop pernikahan usia anak.

“Selain itu, kami juga memiliki program Pusat Informasi Konseling Remaja yang tersebar di 31 tempat di Kabupaten Agam. Kemudian ada juga pencedersan melalui forum anak daerah,” ungkapnya.

Pihaknya sangat menghiraukan perlindungan atas hak anak dan perempuan. Untuk itu dalam melangsungkan pernikahan, pihaknya menganjurkan pada waktu yang tepat.

“Kapan waktu yang tepat? Ketika berumur 21 tahun, di mana pada usia ini seseorang telah siap secara psikologis,” pungkasnya. (HS/Depit)

Leave your vote

1 point
Upvote Downvote

Comments

0 comments

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed