in

Sindikat Pemburu dan Penjualan Landak di Agam Terkuak

HaloSumbar.com – Sindikat pemburu dan pelaku perdagangan hewan langka lintas provinsi kembali terkuak. Sabtu kemarin (24/2) sekitar pukul 10.00 WIB.

Jajaran Kepolisian Resort Agam dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar, berhasil mengamankan EDI, 34 atas dugaan menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup berupa Landak (Hystrix Brachyura).

Warga Jorong Malabur, Nagari Bawan, Kecamatan Ampek Nagari ini diduga menjadi pengumpul Landak dan memperjualbelikannya ke luar Agam.

“Setelah mendalami informasi yang berkembang di masyarakat, Tim Gabungan Sat Reskrim dan BKSDA Sumbar melakukan pengecekan langsung ke rumah terduga pelaku. Ternyata benar ditemukan seekor landak di belakang rumah terduga pelaku di dalam kandang dari beton seluas 3×4 meter,” ujar Kasat Reskrim Polres Agam, Iptu Muhammad Reza.

Di sekitar rumah dan kandang tersebut, lanjut Reza, juga ditemukan duri landak yang berserakan serta bercak darah yang diduga darah dari landak yang sudah mati.

“Setelah dilakukan penyelidikan di tempat yang dimaksud, dari keterangan sementara terduga pelaku, pagi harinya, sekira pukul 07.00 WIB, pelaku bahkan sudah menjual 7 ekor landak kepada pembeli dari daerah Pasaman. Untuk sementara terduga pelaku dan 1 ekor landak diamankan ke Mapolres Agam guna penyelidikan selanjutnya,” pungkas Reza.

Diwawancara terpisah, staff Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA Sumbar, Ade Putra menuturkan pihaknya sudah mengantongi kemungkinan keterlibatan dua pelaku lainnya di Agam dan empat pelaku di Padangpariaman.

“Kami sedang mengembangkan jaringan pelaku. Mengingat pelaku masuk ke dalam jaringan pedagang Landak yang tertangkap bulan lalu di Aceh. Untuk hewan landak yang dijadikan sebagai barangbukti, kami masih menunggu proses penyidikan. Dalam waktu dekat akan kita lepasliarkan bersama dengan penyidik, jaksa penuntut umum dan pelaku di kawasan hutan Cagar Alam Maninjau,” pungkasnya.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat dengan pasal 21 ayat 2 huruf a Jo pasal 40 Undang-Undang nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda 100 juta. (HS/DPT)

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Musda KNPI Payakumbuh Bakal Dihelat, Imam Muhammad Rahmat Sampaikan Visi Misi

Kebakaran Landa Kawasan Saribu Rumah Gadang, Satu Unit Rumah Jadi Abu