Opini

Ramadhan Meningkatkan Potensi Umat Untuk Kejayaan (Bagian 2)

Halosumbar.com – Ketiga, potensi terbaik yang akan dibangkitkan oleh Puasa adalah potensi tidak merusak amal dengan merusak diri dan orang lain.

Apa yang merusak diri, yang merusak diri adalah sombong dalam diri. Raja Namrud yang memiliki kerajaan besar, pasukan besar, negara taklukannya banyak, akibat kesombonganya mati oleh nyamuk yang kecil. Fira’un yang memiliki kerajaan besar, pasukan besar karena sombong dalam dirinya akhirnya hancur oleh anak terbuang bernama Musa AS. Iblis yang sombong tidak mau sujud kepada Adam karena ia diciptakan dari api dan api dari tanah, sehingga perintah Allah sujud kepada Adam ia langgar. Iblis pun diusir dari Sorga.

Kita manusia biasa apa yang mesti kita sombongkan, harta kita belum seberapa dibanding firaun dan namrud, kecantikan kita belumlah sebanding dengan kecantikan zulaiha yang pernah menggoda nabi Yusuf AS. Kita sama diciptakan dari Tanah.

Apa yang membuat kita sombong sehingga kita harus mendustakan agama dengan menghardik anak yatim, tidak memberi makan orang yang orang miskin, lalai dalam sholat, menjadi orang yang ria, dan enggan memberi bantuan. (Q.S al-Maun: 1-7)

Lalu apa yang merusak amal, yang merusak amal adalah dengki. Rasulullah saw. bersabda, “Hindarilah dengki karena dengki itu memakan (menghancurkan) kebaikan sebagaimana api memakan (menghancurkan) kayu bakar.” (Abu Daud).

Dengki adalah sifat yang ingin apa yang dimiliki oleh orang lain menjadi hancur. Bagaimana umat ini akan maju jika tidak ada kekompakan dalam kelompoknya, bagaimana kelompok akan kompak kalau iri dan dengki tertanam dalam kelompok itu.

Kampung ini dijamin tidak akan maju, jika iri dan dengki masih berada dimana-mana. Bagaimana akan maju, kalah gaya sedikit muncul dengki, kalah gaya motor sedikit muncul dengki, kalah gaya mobil sedikit muncul dengki, kalah gaya rumah muncul dengki, kalah gaya mukena muncul dengki dimana potensi kekompakan akan maju.

Ramadhan mengajarkan kita untuk menjauhi sombong, iri dan dengki dengan mengisi ramadhan dengan memperbanyak sedekah dan beramal sholeh.

“Tidak boleh hasad kecuali pada dua orang: seseorang yang diberikan harta oleh Allah, kemudia ia belanjakan di jalan yang haq, dan seseorang yang diberikan oleh Allah ilmu dan ia mengamalkannya dan mengajarkannya” (HR. Al Bukhari 73, Muslim 816)

Baca juga :  #OneManOneTourist Untuk Kejayaan Pariwisata Kota Padang

Keempat, Menjaga kesehatan

Kenapa umat Islam hari ini terbelakang, karena umat banyak yang tidak berkualitas, kenapa tidak berkualitas karena hidup jauh dari pola hidup sehat. Kesehatan adalah pondasi kualitas ibadah manusia baik ibadah mahdah (perintah Allah) maupun ibadah ghairu mahdah (Berbuat baik karena Allah).

Orang-orang non muslim, mulai dari sebelum punya keturunan mereka sudah memiliki perencanaan untuk memiliki anak yang berkualitas, setelah dalam kandungan mereka perhatikan gizi anak, dengan lingkungan yang bersih, menjamin ketersediaan air bersih. Pola hidup bersih adalah modal kesehatan yang baik.

Islam amat mementingkan pola hidup sehat, Islam detail mengajarkan hidup bersih dan memastikan ketersediaan air bersih. Islam mengajarkan umat nya untuk cuci tangan dan kumur-kumur sebelum berwudhu’, sebelum non muslim mengajarkan cuci tangan pakai sabun. Islam mengajarkan untuk ber istinja’ saat setalah buang hajat, bahkan suatu ketika diceritakan pernah nabi harus turun dari kudanya untuk mendoakan orang berada didalam kubur, setelah ditanya oleh sahabat, ternya mayat didalam kubur itu tidak bersuci setelah buang air kecil mereka.

Islam mengajarkan untuk untuk mandi sebelum orang barat belum mengenal mandi. Demikian detail Islam dengan Kesehatan, begitu detail Islam dengan air bersih.

Ternyata persoalan kebersihan dan air bersih ini masih minim menjadi perhatian bagi umat. Masih banyak rumah-rumah tidak memiliki jamban sehat, bagaimana anaknya akan berkualitas. Masih banyak orang tua lebih penting berpikir rokok dari pada ketersediaan air bersih dirumahnya bagaimana akan punya anak berkualitas.
Dalam Islam, 1 orang anak tidak berkualitas adalah tanggungjawab seluruh umat.

Allahu akbar 3x

Islam juga mengajarkan“Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik, maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk, maka akan buruk seluruh tubuh manusia, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kalbu amat menentukan kesehatan sesorang, baik kesehatan fisik maupun kesehatan batin. Untuk itu kalbu perlu dirawat dan dijaga. Tentang hadist ini, mengutip apa yang dijelaskan oleh Imam Al Ghazali dalam kitabnya ihya ‘lumuddin. Kalbu yang disebut dalam hadist ini dapat dipahami secara lahir, dan dapat dipahami secara bathin.

Baca juga :  Paradoks Masyarakat Informasi dan Ketergantungan Terhadap Teknologi

Secara lahir kalbu itu yang disebut jantung, segumpal daging yang berbentuk bulat memanjang seperti buah shanaubar, yang terletak di pinggir dada sebelah kiri, yaitu segumpal daging yang mempunyai tugas khusus yakni memompa darah.

Sementara makna kedua, Kalbu itu suatu perasaan yang halus (lathifah), bersifat Ketuhanan (Rabbaniyah) dan kerohanian yang ada hubungannya dengan hati jasmani, dialah yang merasakan, mengetahui dan yang mengenal dan memerintah manusia.

Jika Nabi sudah memberikan informasi bahwa sumber dari segala kesehatan dan sumber segala penyakit adalah pada kablu, maka perlu dijaga dan dirawat.

Untuk kalbu/hati menjadi sehat Islam mengajarkan, “Ala bidzikrillah tathmainnul qulub”. (Qs Arra’du, 13 : 28). Artinya hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.

Zikir adalah nutrisi kalbu agar menjadi tenang, hati yang tenang akan membawa semua suasana tenang. Kalbu itu berarti bolak balik, sebab hati ini gampang untuk bolak balik, saat hati bolak balik kehidupan manusia gampang menjadi kacau. Saat kehidupan kacau manusia gampang sakit. Untuk itu manusia membutuhkan kalbu yang tentram.

Resep ayat ini memberikan kita pelajaran agar merawat hati dengan zikir kepada Allah, sebab dengan zikir kepada Allah hati menjadi tenang. Maka itu, zikir berfungsi sebagai penyubur kalbu. Firman Allah SWT, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)…” (Qs al-Hadid [57]:16).

Zikirullah juga bisa bermakna shalat, sebab shalat adalah salah satu upaya mengingat-Nya. Firman-Nya, “…Maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (Qs Thaha [20]: 14).

Zikir ini juga bermana al-Quran, sebab salah satu dari sebutan al-Quran ialah adz dzikru. Bukankah al Quran telah tegas menyebutkan bahwa al Quran merupakan syifa’ bagi hati (Qs Yunus [10]: 57). Jadi orang yang selalu membaca al Quran, memperlajari dan mengamalkannya sesungguhnya orang tersebut sedang dalam menerapkan hidup sehat sebab mereka telah menjaga hati untuk selalu sehat.

Selanjutnya, Untuk menjaga kalbu agar tetap sehat Allah mengajarkan agar manusia untuk memakan makanan yang “halalan thayyiban” makanan yang halal lagi baik. Makanan yang halal amat memperhatikan sumber makanan.

Baca juga :  Harimau si“Penjaga” Kampuang

Kehalalan makanan tidak hanya pada zat makanan tersebut tidak dilarang, namun juga harus diperoleh dengan jalan yang halal pula.

Untuk memperoleh makanan dengan jalan yang halal sesungguhnya telah menjadikan diri sehat dan lebih dari itu juga telah menjadikan masyarakat sehat, jika andaikan makanan diperoleh dengan jalan menipu, korup, riba sesungguhnya telah menghambat kemaslahatan kehidupan, hak hidup orang lain untuk sejahtera. Jauhnya kehidupan lain dari kesejahteraan akan berdampak tingginya potensi penyakit menjangkiti masyarakat, tingginya penyakit yang menjangkiti masyarakat juga akan mengganggu kesehatan setiap manusia yang berada dalam lingkungan itu. Satu saja masyarakat yang terjangkit wabah penyakit sesungguhnya dapat mengancam orang sekitar untuk sakit.

Demikian pentingnya menjaga makanan yang halal. Untuk itu para koruptor, penipu, dan pejabat yang abai akan kesejahteraan rakyat sesungguhnya telah menciptakan munculnya wabah penyakit ditengah masyarakat.

Tidak hanya secara fisik, dalam kajian kejiwaan dalam Islam juga menyebutkan orang yang memakan makanan yang tidak halal akan menjauhkan hati dari cahaya kehidupan untuk menuju hidup yang aman, sehat dan damai.

Demikian juga makan yang thayyiban, adalah makan yang bergizi dan bermanfaat untuk tubuh. Islam melarang makan dengan berlebihan sebab itu adalah perbuatan musuh manusia yaitu Iblis. Memakan makanan tidak baik termasuk juga makanan yang tidak bergizi, dan makanan yang banyak menggunakan zat kimia yang tidak mampu diterima oleh tubuh. “Hai Manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; Karena syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu (Qs Al.Baqarah:168). Untuk itu dalam kehidupan Islam amat dianjurkan untuk makan sebelum kenyang berhenti sebelum lapar.

Sholat, membaca alquran, zikir kepada Allah adalah potensi upaya

meningkatkan potensi manusia untuk menjadi umat terbaik. Jadi jika ingin kampung kita ini maju pelihara sholat, baca al qur’an, perbanyak zikir kepada Allah, jaga kebersihan lingkungan, dan perhatikan makanan. Makanlah makanan yang halal lagi baik.

Fa’tabiru ya ulil abshar laallakum tuflihun. (Tamat)

Oleh : Zainal Abadi

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HaloSumbar.com merupakan media online asal Sumatra Barat yang menyuguhkan informasi update dan berimbang dengan tagline Lugas Menginspirasi. Dipublikasikan oleh PT. Halo Kreatif Mandiri

Copyright © 2018 PT. Halo Kreatif Mandiri.

To Top