Opini

Ramadhan Meningkatkan Potensi Umat Untuk Kejayaan (Bagian 1)

HaloSumbar.com – Allahu Akbar 9 x

Jika dibanding dengan makhluk lainnya, manusia adalah makhluk terbaik. Manusia sebagai makhluk terbaik itu adalah yang lebih mulia lagi yaitu orang-orang yang bertaqwa. “Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah yang paling tinggi ketaqwaannya” Al Hujurat; 13.

Ketakwaan adalah derajat paling mulia diantara manusia. Derajat itu dapat diraih dengan melaksanakan ibadah puasa.

Orang yang mampu mendapatkan derajat taqwa adalah orang-orang yang mengamalkan amalan terbaik. Amalan terbaik adalah amalan yang dijalankan berdasarkan Al Quran dan Hadist.

“Kalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi manusia, kalian menyeru (berbuat ) kebaikan dan mencegah kemungkaran, dan kalian beriman kepada Allah” ( QS. Ali ‘Imran: 110).

Islam sebagai ajaran dari Allah SWT adalah ajaran yang akan membangkitkan seluruh potensi umat untuk menjadi umat terbaik. Termasuk ajaran yang mampu membangkitkan potensi terbaik manusia itu adalah ibadah puasa yang dilaksanakan dibulan Ramadhan. Wajar jika Allah menjanjikan kepada orang yang berpuasa adalah Taqwa (Albaqarah: 183).

Jika hari ini, Umat Islam diperlihatkan sebagai umat yang kalah dalam hal menguasai dunia, umat islam tergambar sebagai umat yang terjajah secara ekonomi, terjajah secara politik, terjajah secara teknologi dan informasi. itu tidak lain adalah karena umat Islam tidak mampu mengamalkan ajaran Islam sebagai agama terbaik yang mampu membangkitkan semua potensi terbaik umat Islam.

Untuk mampu membangkitkan potensi terbaik umat Islam, maka layaknyalah kita mempertahankan ajaran yang telah diberikan oleh Allah selama Ramadhan. Apa itu?

Pertama, Meningkatkan Keimanan

Puasa bukanlah ibadah yang gampang untuk dilakukan, buktinya banyak orang yang tidak berpuasa walaupun sudah diwajibkan. Akan tetapi puasa bukan pula ibadah yang sulit untuk dikerjakan, buktinya anak-anak usia 5 tahun pun mampu melaksanakannya.

Baca juga :  Ramadhan Meningkatkan Potensi Umat Untuk Kejayaan (Bagian 2)

Inti dari ibadah puasa adalah persoalan keimanan seseorang. Seseorang yang memiliki keimanan yang kuat akan memiliki komitmen yang kuat untuk mengendalikan hawa nafsu, makan minum, seksual sehingga berpuasa.

Ibadah puasa adalah ibadah yang tidak diketahui oleh orang kecuali Ia pribadi dan Tuhannya. Andaikata orang yang baru saja minum ditempat yang sepi lalu ia mampu berpuasa, tak ada orang yang akan menyangkal. Namun bagi orang beriman itu tidak dilakukan, karena meyakini akan kehadiran Tuhan dalam tindaktanduknya.

Kekuatan imanlah yang mengalir dalam diri orang berpuasa sehingga mampu komitmen untuk mengendalikan diri dari hal yang membatalkan puasa yang erat dengan keinginan nafsu syahwat.

Puasa yang dikerjakan umat beriman tidak semata-mata hanya mengerjakan kewajiban puasa tapi juga di iringi dengan melaksanakan ibadah-ibadah terbaik yaitu dengan memperbanyak sholat sunnat, memperbanyak sedekah, zikir kepada Allah, dan meninggalkan apa yang mengurangi pahala puasa

Dengan puasanya Umat Islam, apa yang terjadi?

Ramadhan telah memberikan rahmat kapada setiap orang Islam untuk memperkecil perbuatan dosa. Ramadhan telah memberikan nikmat kepada orang miskin dan anak yatim dimana dibulan itu telah banyak orang mempedulikan mereka. Ramadhan telah menggerakkan hati orang-orang mampu untuk mau berbagi kasih terhadap sesama.

Tak ada bulan selain ramadahan yang telah meningkatkan ekonomi baik umat Islam maupun non muslim. Tak ada bulan selain ramadhan yang telah menurunkan angka kekerasan. Tak ada bulan selain ramadhan yang telah menurunkan angka kemaksiatan. Tak ada bulan selain ramadhan yang telah menurunkan angka perceraian.

Ramadhan telah membawa setiap umat untuk menutup auratnya. Ramadhan telah membawa setiap umat untuk rajin beribadah. Ramadhan telah membawa setiap umat untuk rajin bersedekah.

Baca juga :  Film 30 September, Pemilih Pemula dan Pemilihan Presiden 2019

Ramadhan telah membawa setiap umat untuk tidak berkata kasar, berkata jujur, tidak mudah amarah.

Dengan keagungan ramadhan tadi, hidup dalam bulan ramadhan terasa indah, damai, serta penuh perjuangan.
Begitulah dahsyatnya puasa ramadhan meningkatkan potensi umat untuk menjadi umat terbaik.

Kedua, Komitmen Menepati Janji.

Betapa umat dan bangsa ini hancur akibat orang-orang yang tidak menepati janji. Janji bertebaran dimana-mana demi meraih jabatan, harta, wanita. Setelah jabatan didapat, harta didapat, wanita didapat janji tinggal janji. Janji menjadi mimpi untuk ditepati.

Islam membolehkan umatnya yang berhalangan, yaitu bagi orang yang berhalangan ataupun bagi yang tidak mampu (al Baqarah: 184). Bagi yang berhalangan berpuasa maka muncullah hutang baginya. Hutang adalah janji.

Bagi orang yang berpuasa dengan rasa imannya mencatat hari-hari tidak berpuasa untuk digantinya yang berpuasa atau untuk membayar fidyah. Tentu janji itu adalah janji antar Ia dengan Tuhannya, orang lain tak ada yang tahu.

Persoalan tidak puasa puasa di bulan ramadhan secara syari dikarenakan pertama dikarenakan lemah, kedua, dikarenakan halangan secara syar’i, dan katiga dikarenakan oleh bukan karena lemah dan bukan karena halangan syar’i.

Karena lemah, itulah yang tidak berpuasa karena sudah lanjut usia, pekerja keras sepanjang tahun yang membuat seseorang tidak punya waktu mengqada puasanya. Orang tersebut harus membayar fidyah dengan memberi makan 1 orang miskin sebanyak jumlah puasa yang ditinggal.

Kedua, orang yang berhalangan secara syar’i yaitu karena sakit, dalam perjalanan, haid, nifas, melahirkan, dan menyusui. Orang tersebut wajib membayar puasanya pada hari lain selain ramadhan sejumlah hari puasa yang ditinggalkan.

Ketiga, bukan karena lemah dan bukan karena halangan syar’i yaitu seperti orang yang tidak berpuasa karena menyusui dan ia takut puasa akan merusak anaknya, maka ia wajib menqadha dan membayar fidyah.

Baca juga :  Ciri-ciri Lowongan Kerja Tidak Aman yang Wajib Diketahui

Puasa yang tinggal ada hutang, sehingga sampai matipun sesorang yang tidak berpuasa akan berhutang. Oleh sebab itu setiap walipun boleh membayarkan puasa orang yang telah meninggal. Seperti anak wajib membayar puasa orang tuanya yang tinggal.

Hadist Nabi: Man Maata wa’alaihi shiaam, shaama ‘anhu waliyyuhu.
“Siapa yang mati, dan atas orang yang mati itu ada kewajiban puasa, maka berpuasalah dari kewajiban itu bagi walinya.”

Untuk itu, kita wajib mencatat secara rinci hari-hari kita meninggalkan puasa secara rinci, seperti rincinya kita mencatat hutang piutang. (Bersambung ke Bagian 2)

Oleh : Zainal Abadi

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HaloSumbar.com merupakan media online asal Sumatra Barat yang menyuguhkan informasi update dan berimbang dengan tagline Lugas Menginspirasi. Dipublikasikan oleh PT. Halo Kreatif Mandiri

Copyright © 2018 PT. Halo Kreatif Mandiri.

To Top