in

​Dipercaya Maju dalam Pilkada Padang, “Si Kecil” Faldo Maldini Menuai Pertanyaan?  

HaloSumbar.com – Disebut-sebut bakal maju dalam Pilkada Padang, Faldo Maldini menuai pertanyaan. Tokoh muda yang kini sedang aktif berwirausaha itu mulai disandingkan dengan nama-nama beken seperti Mahyeldi, Andre Rosiade hingga Algamar.

Banyak yang berharap Faldo Maldini menjadi opsi alternatif dari kalangan muda untuk bersaing dengan petahana. Namun, tidak sedikit pula yang memintanya bergandengan bersama salah satu tokoh yang disebut-sebut merajai survei politik belakangan ini.

Secara ekslusif, Faldo Maldini mengemukakan pandangannya tentang banyak hal kepada tim HaloSumbar belum lama ini. Pria kelahiran Kota Padang, 9 Juli 1990 silam ini baru saja menapaki usia ke 27 tahun.

Dengan begitu, penyandang gelar Master dari Department of Physics Imperial College London, Inggris ini memang terlalu muda untuk kancah politik. Terutama untuk suhu kontestasi menjadi kepala daerah di Kota Padang.

Jika langkah kakinya tidak menemui jalan terjal, maka jadilah Faldo Maldini, “Si Kecil” diantara kandidat Pilkada Padang 2018 mendatang. Faldo akan menjadi satu-satunya pilihan dengan usia di bawah 30 tahun.

Berkali Faldo ditanyakan apakah dia tidak gentar? Berkali pula dia jawab, “tolong mantapkan hati saya”.

Sinyal itu bukan berarti Faldo akan membuat kejutan. Bukan pula dia membusungkan dada. “Mohon bantuan dan arahan nyo sanak, ambo masih baraja,” tukuk Faldo mantap.

Menelusuri rekam jejaknya, Faldo Maldini di usia yang baru setampuk pinang itu sudah memiliki beberapa jenis usaha. Mulai dari usaha manufaktur dengan dua unit pabrik, hospitallity, restoran serta hotel dan sekaligus bisnis developer.

Selain itu Faldo kini sedang membangun gerakan lewat pulangkampuang.com. Yaitu komunitas anak muda yang bergerak dalam memberi alternatif solusi untuk kampung halaman. Faldo memperkenalkan perspektif yang bisa dipelajari dari dunia usaha.

Dia melihat darah anak muda perantau masih dialiri nuansa kampung, untuk itu dia mengkampanyekan gerakan “jangan sampai kesibukan membuat kita lupa mengabdikan diri ke kampung halaman”.

“Kolaborasi setiap pihak untuk membangun kampung sangat dibutuhkan. Karena, tidak ada kemajuan yang bisa dilakukan sendirian. Jadilah komunitas ini namanya pulangkampuang.com,” tuturnya.

Berbicara soal sumbangsih, sederet pengabdian pernah ia lakoni. Diantaranya, gerakan sosial membangun masjid dan memberikan bantuan sepeda untuk anak yang harus jalan kaki sepanjang 5 km menuju sekolah dasar.

Faldo ternyata juga berperan penting dalam membuat beberapa training dan workshop yang dibutuhkan anak muda Sumbar. Mulai dari training persiapan kerja, workshop bahasa Inggris, dan mentoring persiapan kuliah ke luar negeri.

Apa yang bisa Faldo Maldini tawarkan untuk Kota Padang ke depan? Berbekal pengalaman dan latar belakang pendidikan yang dia tempuh, Faldo bertekad mengoptimalkan teknologi untuk Kota Padang yang dia cintai.

“Saya mendambakan pembangunan kota dengan data. Kota cerdas bukan hanya tentang infrastruktur seperti wifi atau cctv. Namun, membuat masyarakat makin cerdas,” ujar mantan presiden mahasiswa Universitas Indonesia (UI) pertama dari ranah Minang itu.

Faldo mengambil contoh. Sampah bisa diolah bukan hanya dengan pemisahan, namun bisa diolah kembali menjadi produk yang memberi nilai lebih. “Bank Sampah misalnya bisa menjadi cara sederhana untuk menyadarkan masyarakat untuk hidup bersih dan sehat,” jelasnya.

Berbicara soal tingkat pengangguran di Kota Padang, menurut dia, Pemko perlu memiliki roadmap untuk penanggulangan krisis tenaga kerja.

“Harus ada pemetaan kondisi ketersediaan lowongan kerja, baik itu sektor publik, sektor privat dan sektor masyarakat. Dari sana kita bisa bergerak. Berapa yang bisa menyerap lowongan dan berapa persentase lulusan setiap tahun. Kita bisa membuat regulasi adanya prioritas untuk anak muda lokal untuk bekerja di Kota Padang,” tegasnya.

Mantan delegasi Indonesia dalam pertukaran mahasiswa internasional ke Kanada ini merasakan perlunya membuka relasi dengan pelaku usaha. Berdasarkan Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD), Pemko Padang sangat minim interaksi dengan pelaku usaha. Hanya 35,83 persen. “Pelaku usaha masih perlu mendapat tempat yang lebih,” tutur Faldo.

Kota Padang dengan segudang kampus, menurut Faldo belum memperhatikan potensi yang begitu besar tersebut. “Kualitas lulusan perlu kita jaga. Perlu dibuat lembaga pelatihan yang bisa membuat standar lulusan Minang tidak hanya setara orang Jakarta, namun juga internasional,” harapnya.

“Yang penting untuk anak muda kita bangun nuansa menjadi pengusaha. Baik itu lewat start up, UKM dan menjadi pedagang,” imbuh penggemar olahraga sepakbola ini.

Apalagi, lanjutnya, orang Minang terkenal dengan darah pengusahanya. Dia menyarankan pembuatan konsep Padang Digital Valley, belajar dari Silicon Valley yang mampu menghadirkan start up besar untuk dunia. Baik itu aplikasi, website atau e-commerce.

“Pemerintah harus menjamin channel distribusi penjualan produk lokal lewat online ke luar kota. Kita belajar dari bukalapak.com , kita bisa buat bukalapau.com dan sejenisnya,” sebut peraih beasiswa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu.

Gagasan dan ide cemerlangnya dalam dunia bisnis patut diacungi jempol. Menurutnya, sisi bisnis yang makin berkembang, jika dipadukan dengan teknologi, disitulah peluang anak muda berkecimpung.

“Selain kita dorong anak muda menjadi PNS dan birokrat handal, kita dorong mereka masuk ke perusahaan swasta multinasional, kita bangun pula iklim bisnis teknologi, terlebih digital. Agency keren bisa hadir dari Kota Padang. Konsultan handal hadir dari Kota Padang. Kita tumbuhkan spirit berwirausaha untuk para pemuda secara khusus,” bebernya.

Bagaimana langkah dan strateginya untuk dapat masuk dalam bursa Pilkada Padang 2018 memang masih teka-teki. Hanya orang-orang terdekatnya yang baru mendapat bocoran. Dia juga tidak ingin menebar janji muluk. Dia tahu dan sadar betul impiannya tidak akan berjalan mulus.

“Saya ingin kita membangun Kota Padang ini dengan gerakan dan partisipasi publik. Karena mustahil Pemko jalan sendiri tanpa bantuan masyarakat. Dampak kinerja Pemko harus dirasakan semua masyarakat di segala lini dan aspek,” pungkasnya.

Faldo Maldini
Faldo Maldini

Meminjam istilah 3 T (takah, tageh dan tokoh) yang ditulis Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno dalam sebuah surat kabar beberapa waktu lalu, cukup mengarah kepada sosok yang satu ini.

Meskipun tulisan Irwan Prayitno tersebut mengacu pada sosok Presiden Jokowi, namun Faldo Maldini memiliki semua itu. Dari segi ‘takah’ kriteria seorang pemimpin katanya mesti memiliki performance, postur tubuh yang bagus, rupawan, gagah, penampilan yang menarik dan nampak berwibawa.

Lalu ‘tageh’ yang diartikan tegas, berani, kuat, kokoh, berpendirian dan muda. Sementara tokoh, selain layak menjadi panutan, dia harus diakui dalam skala yang lebih luas lagi termasuk segi keilmuannya dan akademik.

Good job anak muda, good job Faldo. Impian besar memang perlu langkah-langkah besar. Namun, semua itu dapat dimulai dari hal-hal kecil.(HS/Oneal)

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Comments

One Ping

  1. Pingback:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Menjelang Musda IV Demokrat Sumbar, Josrizal dan Mulyadi Dipanggil SBY, Apa yang mereka bahas?

57 Calon Panwaslu se-Sumbar, Lulus Uji Kelayakan, Siapa Saja?