Features

Inilah Kisah Bung Hatta dan Perempuan Bergincu

HaloSumbar.Com – Proklamator Republik Indonesia Mohammad Hatta memang sudah 37 tahun meninggalkan kita. Jika masih hidup, Sabtu, 12 Agustus 2017 ini, tepat 115 tahun usianya. Selama hidupnya, lelaki yang dilantunkan Iwan Fals sebagai sosok jujur, lugu, dan sederhana itu punya banyak kisah. Inilah kisah Bung Hatta dan perempuan bergincu.

Lima tahun silam, tepatnya 4 Maret 2012,  Profesor Meutia Farida Hatta Swasono dan adiknya Gemala Rabiah Hatta, berziarah ke makam kakek buyut mereka Syekh Abdurrahman. Makam tersebut berada di komplek Pondok Pesantren Al-Manar, Nagari Batu Hampar, Kecamatan Akabiluru, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat.

Ziarah ke makam Syekh Abdurrahman, ulama terkemuka Minangkabau pada abad ke-19, bukanlah ziarah pertama yang dilakoni Meutia, Gemala, dan adik mereka Halida Nuriah Hatta.

Kisah Bung Hatta dan Perempuan Bergincu

Keluarga Besar Bung Hatta saat berziarah ke makam kakek buyut di Limapuluh Kota, Sumatera Barat. HaloSumbar.com/Donal Chaniago

Sudah puluhan kali, ketiga putri Bung Hatta itu berziarah ke komplek Surau Dagang tersebut. Bahkan, beberapa hari lalu, Gemala kembali datang  berziarah.

Setiap kali datang, ada-ada saja cerita yang disampaikan putri-putri Bung Hatta tentang ayah mereka. Salah satunya, cerita tentang Bung Hatta dan perempuan bergincu. Tentu saja banyak yang penasaran, kisah sang Proklamator dengan perempuan berlipstik itu.

Apalagi semasa hidupnya, Bung Hatta dikenal tidaklah seflamboyan Bung Karno. Kenapa tiba-tiba ada kisah Bung Hata dengan perempuan bergincu? Rupanya, perempuan bergincu itu adalah tamsil bagi Bung Hatta dalam beribadah dan melaksanakan aktifitas pemerintahan.

“Tahu gincu kan? Ya, lipstik itu, hanya pemanis, hanya untuk pencitraan. Bung Hatta tak mau begitu dalam beribadah dan bekerja. Beliau lebih memilih seperti garam, biar sedikit dalam makanan, tapi terasa,” kata Profesor Meutia Hatta.

Sikap Bung Hatta ini, berbeda dengan kebanyakan pemimpin-pemimpin saat ini. Apalagi pemimpin yang lahir di era Pilkada langsung. Kebanyakan dari kita para pemegang amanah, memang baru bisa seperti gincu, lebih banyak membangun pencitraan. Kalau beribadah, juga belum seperti garam,” ujarnya.

Baca juga :  Belajar dari Koran Bekas, Anak Petani Miskin itu Kembali Dipercaya Pimpin Golkar Limapuluh Kota

Mantan Menteri itu menyebut, jika para pemimpin bangsa dan politisi memegang teguh cita-cita founding father Republik Indonesia, negeri ini tidak akan carut-marut.

“Soal kondisi bangsa sekarang, saya pikir, kita harus kembali kepada cita-cita para pendiri bangsa dan UUD 1945,” ujar Meutia, lima tahun silam. (HS/Oneal)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HaloSumbar.com merupakan media online asal Sumatra Barat yang menyuguhkan informasi update dan berimbang dengan tagline Lugas Menginspirasi. Dipublikasikan oleh PT. Halo Kreatif Mandiri

Copyright © 2018 PT. Halo Kreatif Mandiri.

To Top