Sastra

Lebih Dekat dengan Karmila Effendi, Penulis Novel Berbakat asal Inderapura

HaloSumbar – Cantik, logis dan kritis. Bekerja sebagai salah seorang karyawan bank swasta terkemuka di Sumatra Barat, tidak membuat Karmila Effendi terpukau zona nyaman. Karya-karyanya belakangan banyak dijumpai dalam bentuk novel. Semua itu ditulisnya memanfaatkan waktu senggang.

Karmila Effendi, demikian nama yang dibubuhkannya di empat novel yang telah ia tulis. Selain menulis, putri kedua dari tiga bersaudara buah hati pasangan Kamisah dan Syahrial Effendi berusia 24 tahun ini juga memiliki hobi sebagai seorang dancer.

Menyukai dunia tulis menulis sejak kecil menjadi alasan wanita yang kerap disapa Kae ini untuk terus menekuni profesi yang serba tidak pasti ini. Meski hidup di negeri yang minat bacanya sangat curam, membuat penulis yang baru saja merilis Novel berjudul Jenuh ini tetap optomis dengan jalan yang ia pilih.

Karmila Effendi: Jenuh Senja Cinta Di Balik Pelangi

Karmila Effendi akrab disapa Kae, karyawan Bank yang juga penulis novel berbakat asal Inderapura, Pesisir Selatan. Halosumbar.com/Depitriadi

Kae merupakan gadis perantauan asal Inderapura, Pesisir Selatan. Selain Novel Jenuh, penggemar film romantis dan horor ini juga telah menelurkan Senja Cinta dan Di Balik Pelangi. Satu lagi karya keempatnya bakal segera dilaunching tahun ini.

Di sore yang sedikit genit, Tim HaloSumbar berhasil berbincang-bincang bersama Kae.

Bagaimana curhatan penulis yang katanya jomblo sejak lahir ini? Yuk simak wawancara berikut ini:

Sebagai seorang karyawan bank, mencakup sebagai seorang penulis, seberapa sering anda dikatakan ‘gila’ oleh teman-teman dan sanak saudara?

Gila? Saya pikir kalau gak ‘gila’ kita gak bakal maju. Duduk manis di posisi nyaman siapa sih yang gak bisa.

Gak sih, karena jadi penulis adalah jalan yang saya pilih di luar karir. Keluarga semuanya mendukung. Teman juga sama, apalagi teman sekantor.

Baca juga :  Waktu

Tapi ada juga sih teman yang mengatakan saya gila. Tapi bukan gila sinting ya, itu karena isi novel yang saya tulis. Mereka pikir apa yang saya tulis itu adalah drama hidup saya.  Malahan ada juga yang berpikir saya tidak bisa move on sehingga menuangkannya dalam tulisan dan ada yang bilang imajinasi atau dunia hayalan saya terlalu tinggi.

Intinya semua orang di sekitar saya support kok.

Banyak yang bilang minat baca di Indonesia relatif rendah. Kenapa Anda tetap mengambil risiko menjadi penulis?

Hmm begitu ya? Apa benar sih minat baca orang kita rendah? Saya kira itu kembali ke individu masing-masing kali ya.

Begini, saya punya prinsip seberapa pun rendah minat baca, itu bukan berarti kita mesti mengubur mimpi-mimpi kita bukan?So, apapun yang terjadi saya akan terus menulis, karena ini kesukaan saya dari kecil. Udah itu aja.

Apa kesulitan terbesar dalam kehidupan seorang penulis di negeri ini?

Kayaknya semuanya serba sulit. Tapi kurangnya rasa saling menghargai karya, serta minat membaca yang rendah barang kali itu yang membuat penulis galau kali yah.

Sama seperti anda, banyak penulis di Indonesia, baik yang baru muncul maupun yang sudah mapan, ternyata perempuan. Apa sebabnya?

Ah masa sih? Perempuan ya? Kebetulan kali. Tapi menurut saya sih itu karena perempuan memiliki rasa dan emosi yang lebih tinggi sehingga lebih mampu merasakan dan ikut terbawa dengan apa yang dialami oleh orang lain barangkali. Terlebih lagi dengan apa yang dialami oleh masalah pribadi.

Anda tinggal di negeri yang semuanya serba mahal. Seperti apa situasi finansial anda sebagai penulis?

Kalau ditanya masalah keuangan dan berharap finansial dari seorang penulis saya pikir itu jelas tidak ada apa-apanya. Namun saya pribadi menuliskan bukan untuk uang, tapi untuk sekadar penyalur hobi saja. Tapi jika ada pemasukan dari karya saya. Berarti itu sudah rezeki.

Apa tema favorit anda sebagai penulis?

Tema favorit saya sudah ketebak kali yah. Apalagi kalau bukan tentang percintaan. Kenapa? Karena faktanya tentang cinta, masalahnya juga tentang cinta dan akibatnya lahirlah novel yang dibuat dengan cinta.

Apa yang dibutuhkan sebuah buku agar digemari oleh pembaca?

Apa yah? Mungkin buku-buku yang dapat memainkan emosi mereka. Buku-buku yang memuat tulisan-tulisan yang dekat dengan kehidupan mereka.

Terakhir, Indonesia pernah menjadi tamu kehormatan Pekan Raya Buku Frankfurt. Jika anda anggota tim pers Komite Nasional, bagaimana bisa karya sastra Indonesia dapat menyapa pembaca di luar negeri, sementara di negeri sendiri saja begitu banyak masalah?

Menurut saya, bahwa salah satu masalah usang Indonesia ialah kurangnya minat baca, maka kita butuh untuk meningkatkan minat baca masyarakat domestik dulu sehingga baru bisa kita menyaapa negara luar.  Tapi semua tergantung kepada individunya lagi sih. Untuk mencapai exsternal kita butuh memperbaiki internal. (HS/DPT)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

HaloSumbar.com merupakan media online asal Sumatra Barat yang menyuguhkan informasi update dan berimbang dengan tagline Lugas Menginspirasi. Dipublikasikan oleh PT. Halo Kreatif Mandiri

Copyright © 2018 PT. Halo Kreatif Mandiri.

To Top