Opini

Film 30 September, Pemilih Pemula dan Pemilihan Presiden 2019

HaloSumbar.com – Setiap tahun, di bulan September, negara ini gaduh. Di media sosial, semua mendadak menjadi sejarawan, memberi berbagai komentar mengenai satu tragedi paling berdarah di negeri ini. Tragedi yang dampaknya masih kita rasakan hingga hari ini, peristiwa 30 September.

Pemutaran film 30 September, kembali diperintahkan Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) kepada bawahannya untuk mengadakan nonton bareng bersama masyarakat sebagaimana dulu juga dilakukan selama zaman otoritarian orde baru (orba).

Di lain pihak, diskusi atau pertemuan korban 65 kerap dibubarkan dan diintimidasi, seperti yang baru-baru ini terjadi di YLBHI.

Yang penting dicatat, di berbagai daerah, sasaran “edukasi sejarah” versi orba yang masih diperdebatkan ini adalah para pelajar, yang memasuki usia pemilih pemula di pemilihan umum (pemilu) 2019 yang akan datang.

Di berbagai daerah, terkhusus di sekolah-sekolah, para prajurit yang harusnya berlatih untuk menjaga kedaulatan Indonesia mendadak menjadi pegiat film. Bergandengan tangan dengan pihak pengajar dan dinas pendidikan mengadakan nobar.

Untuk mempermanis kegiatan, disediakan pula door prize dan berbagai hadiah lainnya. Para pelajar ini, di pemilu 2019 akan mendapat pengalaman pertama di kotak suara sebagai pemilih pemula.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2014, jumlah pemilih pemula memasuki angka 40 juta yang artinya sekitar 15-20 persen dari total pemilih.

Di pemilu 2019, BPS memperkirakan Daftar Penduduk Potensial Pemilih Pemilu (DP4) sekitar 60 Juta jiwa. Angka yang potensial untuk diperebutkan dengan berbagai program kampanye menuju pemilihan presiden (pilpres) 2019.

Panglima TNI Jenderal Gatot, hampir tak ada bedanya dengan ketua partai politik jika dilihat dari manuver-manuver politiknya. Sudah barang tentu, kita semua memahami Panglima sudah memperlihatkan gelagat menuju Pilpres 2019, karena tahun depan di 2018, Panglima akan pensiun.

Baca juga :  Harimau si“Penjaga” Kampuang

Sambil menyelam minum air, mungkin itu pepatah yang tepat. Sambil menjalani jabatan sebagai Panglima TNI, kekuasaan ia pergunakan juga untuk mendulang simpati dari berbagai kalangan. Termasuk para pelajar yang tercatat sebagai pemilih pemula, sasaran edukasi sejarah versi orba dengan pemutaran film 30 September atas perintahnya.

Pemutaran Film 30 September dengan sasaran para pelajar yang dalam pilpres mendatang menjadi pemilih pemula merupakan manuver Panglima TNI untuk menyimbolkan bahwa tentara Angkatan Darat merupakan “juru selamat” Republik Indonesia.

Berulang kali isu komunisme didaur ulang untuk kepentingan politik segelintir elit di negeri ini.

Erving Goffman, pakar sosiologi terkemuka menjelaskan negara dengan berbagai institusinya bisa menjadi institusi total. Yang artinya selain bisa menguasai fisik, juga menguasai pikiran rakyatnya lewat berbagai program indoktrinasi.

Berbagai institusi negara bisa dimanfaatkan untuk sarana produksi pikiran massal seperti yang dilakukan Panglima TNI dengan instruksinya untuk mengadakan Nobar film 30 September.

Para pelajar diarahkan memalui film 30 September untuk berkesimpulan bahwa tentaralah yang paling berjasa menyelamatkan Republik dari berbagai ancaman termasuk komunisme. Dan bila negara dipimpin oleh sosok militer, maka negara akan aman dari berbagai ancaman.

Pemutaran film 30 September merupakan indoktrinasi untuk membentuk referensi politik pemilih pemula agar mengidolakan tentara sehingga nanti berpengaruh jika Panglima akan mencalonkan diri di Pemilu 2019.

Elit kita memang masih memperlihatkan cara-cara berdemokrasi yang begitu dangkal dan banal. Dalam demokrasi yang dangkal dan banal, pemilih pemula dan rakyat secara umum hanya angka-angka statistik yang diperebutkan simpatinya.

Ada pepatah lama yang menyebut bahwa terdapat perbedaan yang begitu mencolok antara politisi dan negarawan. Jika negarawan, ia akan memikirkan soal nasib generasi selanjutnya, sedang jika ia politisi hanya sebatas memikirkan nasibnya pada pemilu selanjutnya.

Baca juga :  Ciri-ciri Lowongan Kerja Tidak Aman yang Wajib Diketahui

Dari dahulu di negara ini, para elit yang bertempur, rakyatlah yang baku hantam di dalam ring. Digiring dan ditakut-takuti disana sini dengan berbagai isu, termasuk bangkitnya komunisme. Kita benar-benar dibuat gaduh untuk tujuan-tujuan pribadi para elit

Film 30 September

Muhnizar Siagian

Memang benar adanya perkataan Muhammad Hatta, sang proklamator kita, ada jamannya nanti di jaman yang besar, Indonesia dipimpin oleh elit-elit yang kerdil. Yang kerap menggunakan kekuasaan untuk tujuan-tujuan pribadi. Termasuk mendongkrak popularitas demi kursi yang lebih empuk. Dan, rakyat memang hanya angka-angka statistik yang sedang dirayu, untuk mengidolakan lalu memilih di kotak suara nanti.

Oleh: Muhnizar Siagian

(Pengajar Sekolah Post-Kolonial Museum Konferensi Asia-Afrika)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

HaloSumbar.com merupakan media online asal Sumatra Barat yang menyuguhkan informasi update dan berimbang dengan tagline Lugas Menginspirasi. Dipublikasikan oleh PT. Halo Kreatif Mandiri

Copyright © 2018 PT. Halo Kreatif Mandiri.

To Top