Utama

Emeraldy Chatra: Bisa Dimaafkan, Sulit Dilupakan

HaloSumbar.com – Emeraldy Chatra memulai kuliah komunikasi dengan sebuah pertanyaan. Kalimat itu muncul setelah dua mahasiswa memaparkan makalahnya di hadapan pria berkacamata dan rambut yang hampir seluruhnya memutih itu.

“Kalian tahu apa yang membedakan kajian komunikasi dengan bidang ilmu sosial lainnya? Siapa yang belum tau?” cecar Emeraldy. Perlahan, sekitar empat orang menunjuk tangannya. Sportif mengakui ketidaktahuannya. Ada yang ragu dan geleng-geleng. Ada juga yang sekedar angguk-angguk tanpa cepat menjawab.

“Saya kasih tau. Objek formal komunikasi itu adalah pernyataan antar manusia. Baik itu melalui ucapan ataupun tindakan,” singkat pria yang pernah menulis buku tentang poligami itu.

Kuliah yang diampu Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Unand itu tak lain adalah Seminar Manajemen Reputasi Krisis dan PR. Sekitar 14 orang mahasiswa pascasarjana hadir dalam kuliah yang berlangsung di Kampus Unand di Jati, Kamis sore (8/2).

Karena mengkaji pernyataan manusia antar manusia maka maka ada istilah dinamika komunikasi. Ada dinamika komunikasi yang tinggi dan ada yang rendah. Di situ lahir krisis.

“Contoh pernyataan manusia yang memicu dinamika komunikasi tinggi silakan coba bilang ke istri. Saya mau kawin lagi,” ujar Emeraldy disambut gelak tawa mahasiswa.

Menurutnya, perdebatan antar manusia juga tergolong dinamika komunikasi tinggi. Itulah yang menyebabkan konflik. Katanya, lidah manusia itu teramat tajam.

“Bisa saja anda dimaafkan setelah minta kawin. Tapi ucapan itu akan terus teringat bertahun lamanya. Tidak akan dilupakan,” tegasnya.

Emeraldy juga memberi contoh sebaliknya. Sangat dekat dan sering dijumpai abad ini. “Dikirim sms sekarang, balasnya tiga hari ke depan. Pura pura tidak tahu ada pesan yang masuk. Ini contoh dinamika komunikasi rendah,” katanya lagi.

Baca juga :  Karena Hal Ini, Dua Mahasiswa Universitas Al Azhar asal Sumbar Ditahan Pihak Keamanan Mesir

“Komunikasi ada tapi gak nyambung aja. Itu juga dinamika rendah,” sebutnya.

Ketika gejala itu ada (gak nyambung, red), sambung Pak Em -demikian sapaan akrabnya- itu menjadi krisis. “Namun apakah itu menjadi konflik. Belum tentu,” imbuhnya.

Yang biasanya menyebabkan konflik, menurut Emeraldy, kalau dinamika komunikasinya tinggi. Ada orang berdebat, yang berujung saling pukul. Padahal yang dibahas awalnya hanya masalah sederhana, namun dengan tingginya dinamika komunikasi yang terjalin, bisa bahaya juga.

“Debat kalau saya menang, bisa membuat orang sakit hati. Salah pun saya, saya harus tampak benar. Maka lebih baik diskusi saja, bisa take and give,” paparnya.

Menurutnya lagi, ini semua bisa dibawakan dalam kelompok komunikasi apapun. Bisa lingkup nagari, perusahaan, organisasi atau di masyarakat sekalipun.

“Semakin baik dinamika komunikasi, tidak terlalu rendah dan tidak terlalu tinggi maka reputasi akan terbangun dengan sendirinya,” pungkas alumnus University of Stirling, Skotlandia itu.

“Saya menyelesaikan studi di kampus itu di tahun 1996. Sudah 22 tahun saya tinggalkan tempat itu, sampai hari ini saya masih menerima kiriman majalahnya. Begitu benar mereka mempertahankan reputasi. Adakah yang seperti itu di negara ini,” tutup dia. (HS/rel)

 

HaloSumbar.com merupakan media online asal Sumatra Barat yang menyuguhkan informasi update dan berimbang dengan tagline Lugas Menginspirasi. Dipublikasikan oleh PT. Halo Kreatif Mandiri

Copyright © 2018 PT. Halo Kreatif Mandiri.

To Top