by

Belajar dari Koran Bekas, Anak Petani Miskin itu Kembali Dipercaya Pimpin Golkar Limapuluh Kota

HaloSumbar.com – Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Limapuluh Kota selesai digelar, Sabtu sore (8/7). Anak petani miskin dari Bukitbarisan itu kembali mendapat tempat istimewa. Siapa dia?

Dalam Musda yang dibuka ketua DPD I Golkar Sumbar, Hendra Irwan Rahim tersebut, Ketua DPRD Limapuluh Kota Safarudin Datuak Bandaro Rajo yang akrab disapa Datuak Safar kembali terpilih sebagai ketua.

“Musda Golkar sudah selesai digelar. Datuak Safar terpilih kembali sebagai ketua secara aklamasi.,” kata Putra Satria Veri, anggota DPRD Limapuluh Kota dari daerah pemilihan Guguak, Harau dan Mungka kepada wartawan seusai Musda tersebut.

Datuak Safar menyebut, Musda adalah bagian dari tuntutan organisasi dalam rangka melaksankan AD/ART.

“Selepas Musda, akan dilaksanakan konsolidasi di semua tingkatan,” ujar Datuak Safar, Minggu siang (9/7).

Biografi Datuak Safar

Datuak Safar Didampingi Politisi Demokrat, Sastri Andiko dan Politisi Gerindra, Deni Asra salam kompak dengan Bupati Limapuluh Kota, Irfendi Arbi

Datuak Safar sendiri, lahir di Nagari Baruah Gunuang, Kecamatan Bukitbarisan, Kabupaten Limapuluh Kota, 28 Agustus 1957.

Waktu ia kecil, orang tuanya, pasangan Jamarin dan Zahara, merupakan petani yang hidup dalam lingkaran kemiskinan. Tapi mereka punya niat dan doa yang sangat mulia: menjadikan Safar sebagai seorang guru.

“Waktu kecil, almarhum orang tua saya, berdoa agar saya menjadi guru. Karenanya, setelah tamat pendidikan SD di Baruahgunuang, saya dimasukkan Bapak ke PGA (sekolah guru agama) di Danguang-danguang,” ujarnya mulai bercerita.

“Saat menimba ilmu di PGA, kedua orang-tua hidup miskin. Untuk berangkat ke sekolah yang berjarak 30 km dari rumah, sering kali saya jalan kaki. Bila kemalaman, menumpang di rumah teman,” imbuhnya.

Lantaran orang tuanya terjerat rantai kemiskinan, setamat PGA, Datuak Safar tak bisa melanjutkan pendidikan. Walau begitu, ia tak berhenti belajar.

Sambil membantu orang tua, termasuk menggembalakan kerbau, Datuak Safar belajar secara otodidak.

Hobinya membaca apa saja, termasuk buku dan koran-koran bekas, membuatnya tumbuh sebagai anak muda yang cerdas.

Pada 1980, Datuak Safar mewakili Kabupaten Limapuluh Kota, mengikuti pendidikan kilat generasi muda Islam.

Waktu itu, banyak pemuda ikut seleksi, termasuk para sarjana, tapi Safar yang lolos.

Sejak itu pula, Safar mulai tertarik dunia politik dan pemerintahan. Pada 1981, ia terjun sebagai Sekretaris Nagari Baruahgunuang.

Setahun kemudian, seiring  lahirnya desa di Minangkabau, Datuak Safar dipercaya warga Baruahgunuang menjadi kepala desa.

“Saya menjadi kepala desa 11 tahun. Dari 1982 sampai 1993. Saat menjadi kepala desa, kenangan yang tak bisa saya lupakan berjalan kaki dari Baruahgunuang ke Kototinggi (15 KM), untuk mengurus masyarakat,” ujarnya.

Menjadi kepala desa, Datuak Safar mulai menyadari, pentingnya pendidikan formal. Dia pun, menjadi warga belajar Kejar Paket C.

“Saya, tidak gengsi. Saya tamat paket C di Bukittinggi,” ucapnya.

Setelah menjadi kepala desa, Datuak Safar yang mulai aktif di Partai Golkar sejak 1982, mencoba menjadi caleg pada Pemilu 1992.

Nasib baik, ia terpilih. Sejak itu, karir politik bekas petani tembakau ini melejit. Pada Pemilu 1997, ia terpilih lagi.

Galodo reformasi yang memaksa Pemilu digelar pada 1999, tetap mengantar Datuak Safar sebagai anggota DPRD sampai 2004.

Pada Pemilu 2004, Datuak Safar yang tercatat sebagai Wakil Ketua DPD Golkar Limapuluh Kota, memilih tak ikut lagi sebagai caleg.

Dia banting stir ke dunia usaha, dengan memimpin CV Permata Gunung dan Permata Tekstil di Bukittinggi.

Selama bolak-balik, Limapuluh Kota-Bukittinggi itu pula, ia mengambil pendidikan sarjana hukum.

Pada Pemilu 2009, Datuak Safar, kembali mencalonkan diri sebagai anggota DPRD. Ia, meraup 3.632 suara. Rekor yang sampai kini, belum terpecahkan.

Selanjutnya, Datuak Safar yang Ketua DPD Partai Golkar, ditunjuk sebagai wakil ketua DPRD. Pada Pileg April lalu, Datuak Safar, kembali tercatat sebagai anggota DPRD peraih suara terbanyak.

Saat ditanya, apa rahasianya sehingga bisa 5 periode menjadi anggota DPRD dan dua kali Pemilu meraih suara tertinggi, Datuak Safar menyebut dua kata: ikhlas dan cinta.

“Dalam hidup, kita harus bisa ikhlas. Ikhlas dalam apa saja. Kita juga harus punya cinta,” tuturnya.

Menurutnya cinta akan pekerjaan itu penting. Sungguh-sungguh. Paling penting, harus sukses dalam berumah tangga.

“Namanya saja, kerja politik. Tidak melulu dapat uang. Itu, mesti diperjelas kepada pasangan dan anggota keluarga,” ujar Datuak Safar.

Datuak Safar sendiri, memiliki dua orang anak dari hasil pernikahannya dengan almarhum Yendriati.

Kedua anaknya, Riza Marleni yang kini guru SMPN 6 Payakumbuh dan Doni Ikhlas yang bekerja di sektor swasta.

Kini, ia menjalin bahtera rumah tangga dengan Guswendri yang merupakan adik dari istri pertamanya. (HS/UP)

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Comments

0 comments

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed