Teknologi

Art Cave, Pengering Kayu Manis Inovasi Mahasiswa Unand

HaloSumbar.com – Jika selama ini proses pengeringan kulit kayu manis dilakukan dengan cara tradisional, kini bisa dilakukan dengan cara modren. Pasalnya, enam mahasiswa kreatif Universitas Andalas berhasil menemukan teknologi pengering kulit kayu manis dengan tetap menjaga higenisitas rempah yang beraroma khas tersebut.

Agar kering dengan sempurna, proses pengeringan kulit kayu manis dengan cara menjemur di bawah sinar matahari membutuhkan waktu yang cukup lama. Selain itu, terpaan sinar matahari secara langsung dapat merusak higenisitas kulit kayu manis.

Karena alasan itulah Pepi Putri Utami bersama lima orang rekannya menciptakan alat pengering kulit kayu manis yang diberi nama Art Cave. Art Cave merupakan Smart Dryer System for Cassia Vera yang digadang-gadang bisa mengatasi permasalahan petani kulit manis.

“Kami pikir sudah saatnya petani kayu manis dimudahkan dalam hal pengeringan, apalagi di musim penghujan” ujar Pepi Putri Utami, Minggu (15/7).

Art Cave dirancang dengan bentuk menyerupai oven yang panjangnya 1.2 meter dengan lebar 0.5 meter serta tinggi 1 meter yang diberi empat sekat. Sumber panas dari alat ini menggunakan kompor yang mana panas akan disalurkan melalui ruang-ruang yang telah dibuat sedemikian rupa hingga menuju ruang pengeringan. Suhu untuk alat ini ditetapkan 50 derajat sampai 60 derajat.

“Suhu tersebut bertujuan untuk tetap menjaga kandungan minyak atsiri yang terkandung pada kulit kayu manis tetap terjaga,” terang Pepi.

Sistem kerja Art Cave dengan cara memasukan kulit kayu manis basah ke dalam oven dan disusun pada rak-rak yang telah disediakan. Panjang kulit manis dipotong lebih kurang 60 cm sedangkan lebarnya 5 cm. Banyaknya muatan oven mencapai 15-20 Kg kulit kayu manis basah.

Baca juga :  Inmotion : Kursi Roda Canggih yang Mempermudah Kaum Difabel

“Kelebihannya menggunakan alat ini bisa menjaga kandungan zat, suhu, dan kehigenisannya,” lanjut mahasiswa Teknik Elektro tersebut.

Diterangkan Pepi, bahan kerangka Art Cave menggunakan alumunium yang dilengkapi komponen elektronika seperti sensor suhu, sensor tekanan. Satu kali pengeringan kulit kayu manis basah dapat dilakukan selama 2-3 jam hingga tingkat kadar air mencapai lebih kurang 14% sesuai dengan standar SNI.

Pepi menyebut bahwa, sebelumnya alat temuannya bersama Dicky Anugrah, Amimul Ummah Baiqi, Ade Al Fauzan, dan Windi Surya Ningsih sudah pernah dijual, namun harganya yang cukup mahal bagi petani kecil, maka alat tersebut hanya digunakan pada skala pabrikan. Satu set Art Cave dibandrol dengan harga Rp. 4 juta.

“Tujuan alat ini dibuat untuk meringankan beban petani berpenghasilan menengah ke bawah. Banyak alat-alat untuk pengeringan yang dijual di pasaran, tapi tidak untuk pengeringan khusus kulit kayu manis dan alat ini kebanyakan digunakan dalam skala pabrik,” terang mahasiswa bimbingan Dr. Eng Muhammad Ilhamdi Rusydi itu.

Keenam mahasiswa tersebut berharap dengan adanya Art Cave, pola pikir petani mengenai higenitas bisa lebih berkembang, karena menurut mereka kadar kandungan kulit manis sangatlah penting.

“Mengenai higenisitas itu sangatlah penting, agar kadar kandungan kulit manis tetap terjaga,” pungkas Pepi.(HS/Depit)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

HaloSumbar.com merupakan media online asal Sumatra Barat yang menyuguhkan informasi update dan berimbang dengan tagline Lugas Menginspirasi. Dipublikasikan oleh PT. Halo Kreatif Mandiri

Copyright © 2018 PT. Halo Kreatif Mandiri.

To Top