by

Rendi Oktafianda, Sosok Pegawai Non PNS Sekretariat Panwaslu Terbaik se Sumbar

HaloSumbar.com – Rendi Oktafianda, berhasil menjadi sosok pegawai Non PNS Sekretariat Panwaslu Kabupaten dan Kota terbaik se Sumatera Barat. Berdasarkan ujian peningkatan kinerja sekretariat Panwaslu yang digelar pada pertengahan Maret lalu, pria berusia 28 tahun ini memperoleh nilai 80,2.

Ujian tertulis yang digelar oleh Bawaslu Sumbar dengan sistem Computer Assisted Tes (CAT) ini diikuti oleh 204 orang pegawai Non PNS Sekretariat Panwaslu se Sumatera Barat. Hasil penilaian yang diumumkan secara resmi di Hotel Axana Padang pada 3 April 2018 lalu itu, membuat Panwaslu Kabupaten Agam di atas angin. Pasalnya dari 11 orang utusan asal Panwaslu Agam, empat orang diantaranya bertengger pada 20 besar.

“Bahkan rata-rata nilai setiap staf sekretariat Panwaslu Agam berada di atas nilai rata-rata keseluruhan peserta,” ujar Ketua Panwaslu Agam, Elvys saat dijumpai wartawan, Jumat (20/4).

Hasil evaluasi tersebut, lanjut Elvys merupakan salah satu kebanggaan masyarakat Agam. Sekaligus menjadi bukti bahwa putra-putri Agam yang bekerja di Sekretariat Panwaslu Agam, telah mendapatkan pembinaan yang baik dari Bawaslu Provinsi maupun dari Pemerintah Kabupaten Agam.

“Dengan adanya evaluasi kinerja yang dilakukan oleh Tim Bawaslu Provinsi tersebut, tentunya  dapat memotivasi para staf sekretariat Panwaslu Agam. Kami para komisioner Panwaslu Agam juga tidak akan bosan untuk memberikan bimbingan agar mereka siap dalam melakukan pengawasan. Agar selalu bermunculan SDM yang dikaderisasi dari generasi ke generasi,” kata Elvys yang juga didampingi Kepala Sekretariat, Yuli Zamra.

Salah satu kiat sukses ini, dibocorkan Elvys, pihaknya selalu mengajak para staf melakukan monitoring ke setiap kecamatan dan nagari yang ada di Kabupaten Agam.

“Saat montoring ke lapangan, setiap pegawai Non PNS ini diberikan tanggungjawab untuk mampu memberikan materi pengawasan. Mereka juga dibiasakan mampu berkomunikasi dengan baik. Baik itu terhadap para penyelenggara pemilu, maupun kepada peserta pemilu,” pungkasnya.

Diwawancara terpisah, Rendi Oktafianda menyebutkan kesuksesan yang diraihnya dalam ujian CAT itu tidak pula membuatnya jumawa. Baginya, nilai di atas kertas tidak dapat menjadi jaminan saat praktik di lapangan.

“Yang terpenting kan aplikasi teori dari pemahaman Undang-Undang. Kadang berbeda temuan di lapangan, berbeda pula cara menyelesaikannya. Itu yang masih ingin kami pelajari secara bersama-sama,” singkatnya. (HS/DPT)