by

Gelar Festival Seribu Rumah Gadang, Solsel Gandeng Koreografer Film Laskar Pelangi 

HaloSumbar.com – Pemerintah Kabupaten Solok Selatan (Solsel) akan menggelar festival seribu rumah gadang dengan menggandeng koreografer dari film Laskar Pelangi. Kegiatan itu digelar sekaligus untuk menyambut pergelaran akbar Tour de Singkarak (TdS), saat melewati Solsel sebagai etape V.
Bupati Solsel Muzni Zakaria mengatakan TdS diagendakan melewati Solsel pada Rabu (22 /11/2017) mendatang. Pergelaran festival seribu rumah gadang, katanya direncanakan berakhir pada Selasa (21/11/2017).

Festival seribu rumah gadang
Festival seribu rumah gadang akan digelar di kawasan SRG, Minggu-Selasa (19-21/11/2017).
“Dalam festival ini kita mengangkat tema “Manjapuik nan tatingga, mangumpuan nan taserak, mangambang pusako lamo”. Digelar selama tiga hari berturut-turut dari Minggu hingga Selasa,” ujarnya.
Pergelaran festival direncanakan akan digelar di kawasan Seribu Rumah Gadang (SRG) dipilih lantaran telah menjadi pariwisata unggulan di Solsel. Itu dilakukan juga sebagai bentuk promosi agar adat dan budaya Solsel bisa dikenal di samping kawasan SRG yang mulai mendunia.
“Dalam festival itu nantinya masyarakat akan kembali melakukan tradisi adatnya, kesenian masyarakat yang disebut pamenan anak mudo seperti randai, silat, barabab dan lain sebagainya. Ini supaya kesenian itu tidak dilupakan seiring perkembangan zaman,” terang Muzni.
Pergelaran festival yang pertama kali itu, Pemda Solsel sendiri turut menggandeng seniman atau koreografer ternama, yaitu Hartati, yang pernah berkiprah sebagai konseptor dan koreografer acara kolosal pembukaan SEA GAMES 2011, Koreografer dari film Laskar Pelangi dan lainnya.
Hartati digandeng untuk mengarahkan dan membuat konsep pelaksanaannya. Meskipun pertama kali digelar sambungnya, pihaknya berharap agar bisa berkelanjutan di tahun berikutnya.
Sementara, Hartati Koreografer yang akan mendampingi Festifal SRG tersebut menjelaskan festival tersebut diyakini mampu mengembalikan ingatan masyarakat terhadap bagaimana tradisi adat dahulunya di Solsel yang selalu bergotong-royong.
“Tujuannya, tradisi yang dirasa sudah mulai memudar kita wujudkan kembali. Seperti kejiwaan gotong-royong, dimana dulunya masyarakatnya yang terkenal sangat kuat dulunya, semua peristiwa adat terjadi atas partisipasi masyarakat bukan instruksi dari pimpinan. Prinsip “duduak samo randah, tagak samo tinggi, dan pemimpin ditinggikan sarantiang” itu menjadi acuan untuk festival ini,” sebut Hartati yang juga Putri asli Solsel tersebut.
Intinya lanjut Hartati, festival itu bukan melakukan hal yang luar biasa atau di luar kebiasaan masa lalu. Justru katanya, festival tersebut mencoba mengingatkan kembali apa yang sebetulnya yang dilakukan di masa lalu. Untuk itulah dipilih temanya menjemput yang tertinggal tersebut.
Pada saat festival, pihaknya akan merangkul masyarakat setempat. Masyarakat bukan sebagai penonton tapi langsung sebagai pelaku dan melakonkan keseharian di Kawasan SRG ini.
“Saat festival nantinya, wanita diharuskan memakai baju kurung dan pria pakai taluak balango. Bahkan wisatawan yang datang, hadir atau menginap di SRG, kita himbau serius untuk berpakaian yang sama seperti masyarakat di sana,” katanya.
Nofrins Napilus, salah seorang penggiat pariwisata Sumbar mengaku sangat antusias menyambut pesta rakyat di Negeri Empat Raja itu.
“Inilah yang kita tunggu-tunggu dari kawasan SRG, sebagai sebuah tujuan wisata yang sebenarnya agar menjadi daya tarik Nasional maupun Internasional nantinya,” puji Nofrins.
Diketahui, agenda yang direncanakan dalam festival itu di antaranya arak-arakan prosesi adat, tari-tarian adat, menampilkan musik tradisional. Kemudian memperagakan empat jenis pencak silat yaitu Silat Luncua, Silat Harimau, Silat Langkah 4 dan Silat Pangiyan Rajo Bungsu.(HS/BI)